Menu

Dahuan di Kali Kembang: Api, Ayam, dan Ikatan Leluhur Dusun Sombron

Info Dusun Sombron – Kabut tipis masih menggantung di atas pepohonan ketika pagi menyingsing di Dusun Sombron. Suara gemericik air Kali Kembang berpadu dengan kicau burung, menciptakan suasana yang tenang namun penuh makna. Pukul 07.00 WIB, Sabtu (7/2), warga mulai berdatangan ke kali kembang bukan untuk berwisata, melainkan untuk melaksanakan tradisi Dahuan, sebuah ritual turun-temurun yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Di tengah tanah berpasir yang lembap oleh embun pagi, tumpukan kayu bakar disusun berjejer. Bara api perlahan menyala, memancarkan kehangatan yang menyentuh kulit dan jiwa. Di atasnya, 20 ekor ayam dibakar secara utuh. Cara pengolahan ini berbeda dari kebiasaan memasak sehari-hari yang sarat bumbu dan rempah. Dalam Dahuan, ayam dibiarkan alami tanpa racikan khusus sebagai simbol penyatuan manusia dengan alam.
Asap tipis mengepul ke langit, berkelok seperti doa yang terbang menuju Yang Maha Kuasa. Warga beraktivitas lalu lalang, menyiapkan acara, sebagian lagi berbincang lirih mengenang cerita para leluhur yang dulu memulai tradisi ini.
Di satu sisi, para bapak sigap mengatur api, memastikan setiap ayam matang merata. Tangan mereka hitam oleh arang, namun wajah mereka memancarkan kebanggaan karena berperan dalam menjaga warisan budaya. Di sisi lain, para ibu bergerak cekatan menyiapkan hidangan pendamping: nasi hangat, sayur, sambal, dan lauk sederhana yang nantinya akan disantap bersama.


Suasana kebersamaan terasa kental.
Tokoh masyarakat Dusun Sombron, Jatmiko, menuturkan bahwa Dahuan bukan sekadar kegiatan membakar ayam atau makan bersama, melainkan ritual yang mengandung nilai kebersamaan, penghormatan kepada alam, dan rasa syukur kepada Tuhan.
“Kami hanya merawat tradisi leluhur yang sudah ada sejak dahulu kala,” ujar Jatmiko saat diwawancarai Media Sombron di lokasi kegiatan.
Ia menambahkan bahwa Dahuan mengajarkan warga untuk hidup selaras dengan alam, saling membantu, dan tetap menjaga jati diri di tengah arus modernisasi.
“Semoga warga Dusun Sombron bisa menjaga tradisi ini sebagai bagian dari kehidupannya. Semoga kita tetap rukun dan damai,” harapnya penuh ketulusan.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dusun Sombron, Widodo, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh warga yang masih setia menjaga tradisi. Ia melihat Dahuan sebagai perekat sosial yang memperkuat rasa persaudaraan.
“Semoga warga Sombron tetap menjaga keakraban dalam memelihara tradisi yang dititipkan para leluhur,” katanya.
Menjelang siang, ayam bakar yang telah matang dihidangkan. Mereka duduk berjejer, menyantap hidangan bersama di bawah pepohonan tepi Kali Kembang. Tawa, cerita, dan doa bercampur menjadi satu dalam suasana hangat penuh kekeluargaan.
Di hari itu, Dahuan bukan sekadar ritual ia adalah ingatan kolektif, identitas budaya, dan bukti bahwa Dusun Sombron masih teguh menjaga akar tradisinya di tengah perubahan zaman. Red

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *